Iron Member
Join or Login to Multipers to get updates from Lena K.
Article Categories:
Uncategorized
Photo Album Categories:
Uncategorized
Review Categories:
Uncategorized
Recipe Categories:
Uncategorized
Product Categories:
Uncategorized



Karena Indonesia itu Indah: Kota Nan Elok, Bukit Tinggi

Posted at 2014-02-25 09:46:01

IMG_4021.JPG

 

Bukit Tinggi menjadi salah satu tempat wisata wajib kunjung bagi para wisatawan yang datang ke Sumatera Barat. Kota ini menawarkan berbagai obyek wisata yang menarik, pusat oleh-oleh dan kuliner khas Minang Kabau, dan kotanya juga nyaman dengan pemandangan pegunungan dan lembah yang indah, serta udara yang sejuk segar.

Sesuai namanya, kota ini berada di dataran tinggi antara 750-1.000 dpl, dengan luas 25.239 km2. Sejarah kota ini konon berawal dari sebuah pasar yang berada di bukit nun tatinggi di wilayah Nagari Kurai kemudian dikembangkan oleh para penghulu nagari itu.

Kota Bukit Tinggi juga menjadi kota penting di masa penjajahan Belanda maupun Jepang. Oleh sebab itu, kota ini, selain disebut Kota Budaya juga disebut Kota Perjuangan, dan pernah menjadi ibukota Indonesia di masa pemerintahan darurat. Tak heran, jika di Bukit Tinggi, masih banyak sisa-sisa peninggalan penjajahan Belanda dan Jepang.

Salah satu peninggalan Belanda yang sekarang menjadi salah satu obyek wisata di Bukit Tinggi adalah Benteng Fort de Kock. Benteng yang dulunya menjadi tempat peristirahatan para opsir Belanda ini berada di atas perbukitan, sehingga dari kawasan benteng kita bisa melihat panorama kota Bukit Tinggi yang cantik.

 

IMG_4072.JPG

 

Di dekat benteng, juga terdapat jembatan yang cukup terkenal di Bukit Tinggi, yaitu Jembatan Limpapeh yang arsitekturnya bergaya Minang Kabau. Jembatan ini menghubungkan kawasan benteng dengan tempat wisata Kebun Binatang , membentang di Jalan Ahmad Yani, yang merupakan jalan utama di kota Bukit Tinggi

 

IMG_4052.JPG

Dari kawasan Fort De Kock, kita bisa berjalan kaki menuju Pasar Atas untuk menyaksikan Jam Gadang yang menjadi ikon kota Bukit Tinggi. Pada hari Sabtu, kawasan Pasar Atas dan Jam Gadang ramai pengunjung karena hari Sabtu adalah hari pasar warga Bukit TInggi. Nah, kalau kita berada di Jam Gadang, coba perhatikan angka-angka Romawi di Jam Gadang. Penulisan angka empat Romawi tidak ditulis dengan 'IV' seperti lazimnya angka Romawi yang berlaku sekarang. Tapi ditulis dengan 'IIII'. Banyak cerita yang melatar belakangi mengapa angka 4 pada Jam Gadang ditulis 'IIII'. Mulai dari yang berbau mistis, sampai berdasarkan kajian sejarah.

 

IMG_4101.JPG

 

Ngarai Sianok dan Lubang Jepang

Jika ke Bukit Tinggi, jangan lewatkan berkunjung ke obyek wisata Panorama yang lokasinya juga tak seberapa jauh dari Jam Gadang. Di onyek wisata ini, kita bisa memanjakan mata dengan pemandang alam yang hijau berupa tebing dan lembah Ngarai Sianok yang indah .

 

canyon.JPG

 

Bentuk tebing yang memanjang, dan tonjolan bebatuan di kawasan ini, membuat ngarai ini juga disebut sebagai Grand Canyon-nya Bukit Tinggi. Di lembah, kita bisa melihat kelokan bekas sungai, jalan setapak, sawah yang menghijau dan rumah-rumah penduduk. Di kawasan Panorama juga banyak berkeliaran monyet jenis ekor panjang, namun mereka tidak mengganggu pengunjung.

Setelah puas memandangi keindahan Ngarai Sianok, kita bisa mencoba sensasi masuk ke Lubang Jepang , dan menelusuri lorong-lorong bawah tanahnya sepanjang 1.400 m. Lubang Jepang ini dibangun oleh tentara Jepang pada masa Perang Dunia II sebagai tempat perlindungan.

 

IMG_4040.JPG

 

Menyusuri lorong-lorong Lubang Jepang, saya seperti merasakan bagaimana kesulitan warga Palestina di Gaza juga membuat terowongan-terowongan bawah tanah, demi mendapatkan barang-barang kebutuhan mereka dari luar tanpa ketahuan pasukan zionis Israel.  Warga Gaza terpaksa menyelundupkan barang-barang kebutuhan sehari-hari, karena bantuan internasional dan arus keluar masuk barang ke Gaza ditutup oleh kebijakan blokade Zionis Israel. Anda juga bisa ikut merasakannya jika ke Bukit Tinggi, sempatkanlah berkunjung ke Lubang Jepang. []

 

Catatan: artikel ini ditulis untuk rubrik Pernik, Majalah BCA

Well Written
Well Written
No comment was found.
Please login to comment this article.