Iron Member
Join or Login to Multipers to get updates from Lena K.
Article Categories:
Uncategorized
Photo Album Categories:
Uncategorized
Review Categories:
Uncategorized
Recipe Categories:
Uncategorized
Product Categories:
Uncategorized



Muslim Travel(ler, writer), Apa Tanggung Jawab Kita ?

Posted at 2014-03-06 12:41:01

muslimtravel.jpg

 

Beberapa tahun belakangan ini traveling sedang menjadi ‘trend’, atau bisa disebut sudah menjadi gaya hidup sebagian besar masyarakat kita. Sehingga komunitas nge-trip atau EO-trip banyak bermunculan, bak jamur di musim hujan.

‘Booming’ nge-trip saat ini juga memicu efek berantai dengan semakin banyaknya buku-buku catatan perjalan atau sekedar ‘guide book’ wisata yang ditulis oleh para penyuka jalan-jalan. Hal yang sangat positif saya kira.

Saya yakin semua orang pasti suka jalan-jalan. Selain untuk refreshing, juga menambah wawasan tentang tempat, budaya, makanan, produk kerajinan tangan, dan kehidupan masyarakat yang khas, dan berbeda dengan apa yang kita jumpai sehari-hari. Maka saya sepakat dengan pendapat, bahwa orang yang banyak melakukan perjalanan ke berbagai tempat, dan bertemu dengan beragam orang dengan adat istiadat yang beraneka rupa, akan lebih bijak menyikapi perbedaan dan keberagaman.

“ A traveler try new things, meet new people, and look beyond what is right in front of you. Those are the keys to understanding this amazing world we live in,” begitu kata Andrew Zimmern, seorang pesohor asal AS, chef terkenal dan produser ‘Travel Channel’ .

Dunia Islam juga mengenal tokoh-tokoh penjelajah dunia, macam Ibnu Batuttah. Ia menejelajahi sejumlah negara di benua Asia, Afrika, jazirah Arab, Persia bahkan sampai ke Cina dan Spanyol. Dalam perjalanannya, konon ia sering mengalami ‘culture shock’, menjumpai berbagai hal yang bertentangan dengan ajaran yang diyakininya sebagai seorang muslim. Semua pengalamannya ia tuliskan dengan jujur di berbagai catatan perjalanannya.

Di era sekarang, minat kaum muslimin untuk travelling kembali tumbuh. Situs BBC (http://www.bbc.com/news/magazine-19295861) memberitakan, pesatnya pertambahan populasi muslim dan tingkat perekonomian mereka, menyebabkan jumlah wisatawan muslim meningkat dan mereka tak segan-segan menghabiskan banyak uang untuk berwisata. Kondisi ini pula mendorong munculnya istilah “pariwisata halal” bahkan di negara-negara non-muslim. “Pariwisata Halal” bukan sekedar menyediakan makanan halal atau tempat ibadah, tapi juga hotel dan akomodasi yang berbasis syariat Islam.

 

muslimahtravel1.jpg

 

Bagi seorang muslim, melakukan perjalanan, entah itu untuk sekedar senang-senang (refreshing) atau karena untuk tujuan tertentu, menulis buku atau artikel perjalanan misalnya, kadang memiliki nilai lebih yang akan mempengaruhi bahkan mengubah cara pandang terhadap hidupnya dan kehidupan itu sendiri.

Perjalanan kadang membuat kita tersadar bahwa apa yang kita yakini selama ini, atau hanya kita dengar dari “kata orang” ternyata tidak semuanya mengandung kebenaran, bahkan bisa jadi bias. Itulah sebabnya, seorang muslim yang sudah berpengalaman melakukan perjalanan ke berbagai tempat, punya tanggung jawab moral untuk mengungkapkan apa yang dilihatnya dengan jujur apa adanya. Berani meluruskan bias-bias yang menjadi bibit kesalahpahaman, kecurigaan dan pemicu kebencian antar sesama.

Selain membeberkan keindahan, keunikan, dan pesona tempat yang dikunjungi, seorang muslim traveler (apalagi kalau sudah katagori muslim travel writer), sejatinya bisa menjadi jembatan antar budaya yang berbeda-beda, menjadi agen perdamaian antar sesama umat manusia, sehingga perjalanan itu menjadi lebih bermakna untuk kita, dan bermanfaat bagi orang lain.

Kedengarannya sangat idealis ya … entahlah. Saya serahkan penilaiannya pada para pembaca sekalian. []

 

muslimtravel1.jpg

 

 

 

No stamp received.

No comment was found.
Please login to comment this article.