Iron Member
Join or Login to Multipers to get updates from Lena K.
Article Categories:
Uncategorized
Photo Album Categories:
Uncategorized
Review Categories:
Uncategorized
Recipe Categories:
Uncategorized
Product Categories:
Uncategorized



Rakyat Turki Tak Bisa “Berkicau” Lagi

Posted at 2014-03-22 19:52:01

er.jpg

 

Sejak hari Kamis (20/3), pemerintah Turki memblokir akses ke jejaring sosial Twitter. Sebelumnya, Perdana Menteri Turki Recep Tayyeb Erdogan mengancam akan menutup akses semua jejaring sosial di negaranya, menyusul tudingan korupsi terhadap pemerintahannya yang disebarkan melalui sosial media.

Beberapa bulan terakhir, kelompok-kelompok oposan di Turki melakukan aksi protes terhadap pemerintahan Erdogan menyusul merebaknya isu dugaan korupsi di tubuh pemerintahan Erdogan.

Aksi protes dan tuduhan korupsi itu membuat Erdogan berang, dan menuding sosial media macam facebook, twitter, google berperan dalam memicu kekisruhan di dalam negerinya karena digunakan kelompok antipemerintah untuk melontarkan tuduhan dan seruan penggerakan massa.

Tindakan pemerintah Erdogan membatasi akses ke twitter langsung menuai kecaman dari dalam dan luar negeri, bahkan dari koleganya sendiri Presiden Abdullah Gul.

Gul mengatakan, pemblokiran total terhadap sosial media dimana masyarakat dunia sudah menjadi penggunanya, secara teknis tidak bisa dibenarkan, dan hanya akan membawa Turki menjadi negara yang tidak demokratis.

Ketakutan Erdogan akan kekuatan sosial media yang bisa mengancam kelangsungan pemerintahannya, bisa dipahami karena kekuatan sosial media terbukti bisa diandalkan sebagai alat untuk propaganda atau mengerahkan massa, yang berujung pada tumbangnya rezim di sebuah negara.

Pengalaman itu bisa kita lihat pada masa Arab Spring. Revolusi rakyat di sejumlah negara Arab dan Afrika berawal dan digerakkan melalui status-status yang ditulis di berbagai sosial media. Kata-kata yang dirangkai dalam kalimat di jejaring sosial, menjadi daya hancur yang memiliki kekuatan sama dengan senjata untuk berperang.

Tak heran jika Kaisar Prancis Napoleon Bonaparte berkata, “ Saya lebih takut pada sebuah pena, daripada seratus meriam”, dan Perdana Menteri Inggris Winston Churchil juga pernah bilang, “Pena lebih tajam dari pedang”.

Pena di era teknologi informasi canggih seperti sekarang ini adalah ujung jari yang memencet tombol-tombol huruf di keyboard komputer, tablet atau telepon pintar. Pembunuhan karakter, menumbangkan rezim yang tidak disukai, memicu amarah massa, kini cukup dengan menggunakan ujung jari didukung oleh perangkat internet yang bisa menyebarkan berita dengan cepat dalam hitungan detik.

Seorang Erdogan nampaknya tak mau itu terjadi. Apalagi isu yang berkembang adalah isu korupsi, karena selama ini pemerintahan Erdogan mewakili pemerintahan dari kekuatan partai berbasis Islam. Mau ditaruh kemana muka Erdogan jika pemerintahannya yang dikenal islami terlibat korupsi.

Terlepas dari benar tidaknya tuduhan korupsi itu, seorang pemimpin macam Erdogan yang dulu pernah dipuji-puji karena keberaniannya melawan Israel, seharusnya tak perlu panik sampai memblokir twitter untuk membendung tuduhan korupsi itu. Buktikan saja bahwa pemerintahannya memang bersih. []

 

sumber berita : http://www.aljazeera.com/news/europe/2014/03/turks-report-widespread-twitter-outages-20143210429682465.html

No stamp received.

No comment was found.
Please login to comment this article.