Iron Member
Join or Login to Multipers to get updates from Lena K.
Article Categories:
Uncategorized
Photo Album Categories:
Uncategorized
Review Categories:
Uncategorized
Recipe Categories:
Uncategorized
Product Categories:
Uncategorized



Kompak Saja Susah, Bagaimana Mau Mengurus Umat?

Posted at 2014-05-18 15:26:01

pres.jpg

 

Lama banget ini blog gak diupdate. Belakangan ini, rasanya sedang mengalami apa yang disebut writer’s block, susah menemukan ide-ide buat menulis. Kalaupun ada ide di kepala, susah buat menuangkannya dalam bentuk rangkaian kalimat.

Sekarang, mumpung writer’s block itu sedikit demi sedikit itu mulai sirna, saya ingin menulis lagi. Kali ini yang rada serius, sebagai bentuk kegelisahan hati saya melihat sepak terjang para politisi partai yang mengklaim sebagai partai berbasis Islam menjelang pemilu presiden 2014.

Katanya, uneg-uneg itu seperti kentut, kalau tidak dikeluarkan, bisa menimbulkan penyakit. Jadi kalau ada yang mengganjal di hati, harus segera dilepaskan. Entah itu hal yang enak, maupun yang tidak enak, supaya tidak jadi penyakit. Kalau saya, biasanya melepaskannya lewat tulisan. If I don’t write them, I’ll go mad. J

Well, tulisan ini sebenarnya lintasan-lintasan pikiran yang berkelebat di kepala saya. Bisa jadi ada yang tidak setuju dengan apa yang saya tulis, saya tidak mau ambil pusing. Karena saya sudah pusing dengan urusan saya sendiri, hehehe.

Berangkat dari pelaksanaan pemilu legislatif kemarin. Kita semua tahu bahwa perolehan suara partai-partai berbasis Islam minim semua, meski katanya melewati perkiraan lembaga-lembaga survei. Ada lima partai berbasis Islam yang ikut pemilu tahun ini; PKB, PKS, PPP, PAN, dan PBB semua dengan perolehan suara dibawah 10 persen dalam pemilu caleg kemarin.

Dari sini saja sebenarnya sudah menyedihkan. Di negara yang mayoritas muslim, peroleh suara partai berbasis Islam malah jeblok. Indikasi bahwa partai berbasis Islam sama sekali tidak seksi dan tidak menarik bagi sebagian besar muslim di negeri ini. Kenapa bisa begitu? Kalau menurut saya sih, karena partai-partai berbasis Islam tidak mampu menunjukkan sebagai partai yang punya keunggulan lebih dibandingkan dengan partai yang sudah ada yang tidak berbasis agama. Belum lagi perilaku para simpatisan partai berbasis Islam yang kerap norak menunjukkan fanatisme pada partai dan pemimpin partainya, dalam beberapa kasus malah menampakkan perilaku yang tidak pantas dan tidak sesuai tuntutan Islam.

 

Ah, bakal panjang kalau membahas itu. Balik lagi ke soal perolehan suara tadi, memang sih, tidak ada partai yang perolehan suaranya dominan dalam pemilu legislatif kemarin, apalagi mencapai ambang batas syarat pengajuan calon presiden. Maka, begitu hasil perhitungan cepat pemilu keluar, sejumlah partai berbasis Islam mulai kasak-kusuk mencari partner untuk berkoalisi, mencari peluang agar tokoh-tokoh yang selama ini diusungnya sebagai capres bisa maju dalam pertarungan pilpres.

 

Koalisi Setengah Hati

 

parpol.jpg

 

Di tengah “gerilya” partai-partai Islam untuk mencari partner koalisi, tiba-tiba muncul tokoh lawas Amien Rais yang menggagas koalisi partai-partai Islam dibawah bendera koalisi “ Indonesia Raya “. Hingga pada Kamis (17/42014) digelar pertemuan untuk membahas koalisi ini, yang hanya dihadiri segelintir tokoh Islam dan perwakilan dari partai berbasis Islam seperti PKB, PAN, PKS. Tak bisa dipungkiri bahwa target utama gagasan koalisi ini adalah mengajukan capres dari kalangan islamis.

Sejak awal mengikuti berita itu, saya sudah skeptis bahwa koalisi partai Islam “Indonesia Raya” itu bakal sukses, apalagi kalau tujuan utamanya cuma untuk memajukan seorang capres, bukan untuk kepentingan yang lebih luas, kepentingan bangsa yang terdiri dari beragam etnis dan agama. Saya bisa merasakan, dibalik senyum dan komentar manis para politisi partai berbasis Islam soal pentingnya koalisi itu, gestur mereka tetap menunjukkan egoisme masing-masing agar partainyalah yang paling menonjol, dan tokoh dari partai mereka yang diajukan sebagai capres. Mulut bisa ngomong apa saja, tapi gestur seseorang tak bisa berdusta.

Sikap skeptis saya pun terbukti. Sekarang, di tengah riuh rendahnya pencalonan presiden dari berbagai partai politik, koalisi partai Islam Indonesia Raya tak terdengar lagi suaranya. Partai-partai berbasis Islam yang kemarin hadir dalam pertemuan kolaisi itupun tercerai berai, masing-masing mencari sekoci untuk menyelamatkan eksistensi partainya sendiri. Ada partai berbasis Islam yang sudah merapat ke kapal yang lebih besar, dan ada partai berbasis Islam yang masih kebingungan terombang-ambing di tengah lautan dan mengirim sinyal “SOS”.

Dan saya pun sebagai muslim sekaligus rakyat biasa, cuma bisa menonton sambil sesekali tersenyum dan merasa kasihan. Di lubuk hati yang paling dalam, saya merasa miris melihat tingkah polah partai-partai berbasis Islam yang notabene berisi para politisi muslim itu. Seolah-olah dunia ini bakal kiamat kalau mereka tak mendapat kekuasaan dan jabatan. Padahal masih banyak persoalan umat Islam yang membutuhkan perhatian mereka, bagaimana mencetak generasi-generasi muslim yang bukan hanya intelek tapi berakhlak islami, memberantas kemiskinan, korupsi, dan banyak lagi persoalan lainnya.

“Tapi, Kompak saja susah, bagaimana mau mengelola negara dan mengurus persoalan rakyat yang demikian kompleks?” Saya cuma membatin dalam hati. []

 

Recommended
Recommended
No comment was found.
Please login to comment this article.