Iron Member
Join or Login to Multipers to get updates from Lena K.
Article Categories:
Uncategorized
Photo Album Categories:
Uncategorized
Review Categories:
Uncategorized
Recipe Categories:
Uncategorized
Product Categories:
Uncategorized



Suatu Hari di Kelas Hujan Bulan Juni

Posted at 2015-04-03 14:47:01

sdd3.jpg

 

Sudah lama rasanya gak nulis di blog. Nah, mumpung libur panjang, disempet-sempetin deh nulis, sembari berbagi kesan dan pengalaman menghadiri “Kelas Hujan Bulan Juni” nya Sapardi Djoko Damono sekaligus peluncuran trilogi Soekram karyanya, yang digelar Gramedia di toko bukunya yang di Central Park, hari Minggu, 22 Maret kemarin … jadi agak late post ya …

---

Hari itu, seperti biasanya saya seorang diri menyempatkan datang ke lokasi acara. Niat saya cuma pengen melihat dan mengenal lebih dekat sosok Sapardi Djoko Damono, penulis (atau sastrawan?) yang puisi-puisinya sering dikutip banyak orang, termasuk saya.

Rangkaian kata dan cerita yang ditulis Sapardi dalam puisi-puisinya sederhana, tapi mampu menyentuh hati paling dalam siapa pun yang membacanya. Setidaknya, itu penilaian saya, sebagai orang awam, yang tak terlalu paham seluk beluk dunia sastra, utamanya penulisan puisi. Saya tidak bisa menilai, apakah dari sisi seni puisi atau sastra, puisi-puisi Pak Sapardi itu bagus atau tidak. Saya cuma merasakan keindahannya. Itu saja.

Lewat pukul 13.00 siang, saya tiba di toko buku Gramedia Central Park. Saya lihat bangku-bangku sudah penuh. Beruntung, saya mendapat kursi di deretan kedua, meski paling ujung. Saya perhatikan yang hadir, membuat saya takjub, karena ternyata yang datang rata-rata usianya masih muda-muda, bahkan ada yang remaja. Tadinya saya pikir, yang bakal hadir di acara Pak Sapardi ini, adalah bapak-bapak, atau ibu-ibu paruh baya. Kehadiran anak-anak muda itu, setidaknya menunjukkan bahwa puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, bisa diterima di segala lapisan usia. Lebih dari itu, saya kagum melihat anak-anak muda yang memiliki apresiasi yang luar biasa terhadap karya-karya puisi, diantara banyak anak muda jaman sekarang yang sedang gandrung K-pop.

 

Puisi Bukan Untuk Dipahami

 

sdd4.jpg

 

Saya melihat sosok Sapardi Djoko Damono sebagai sosok yang sederhana. Tubuhnya, meski tampak kurus, tapi terlihat masih sehat di usianya yang sudah 75 tahun.Bicaranya lugas, apa adanya. Seperti ketika ia bercerita tentang puisi dan puisi-puisinya.

“Sampai saat ini, sudah 30 puisi saya yang dijadikan lagu. Bahkan puisi Hujan Bulan Juni, ada yang membuat komiknya. Saya tidak keberatan, meski saya tidak pernah dapat royalti apa-apa dari situ,” kata Sapardi.

Menurut Sapardi, puisi itu sejatinya lagu. Ia mencontohkan tradisi “nembang” dalam budaya Jawa, sesungguhnya itu adalah puisi yang dinyanyikan, bukan sekedar dibaca. Karena dalam puisi ada bahasa, ada irama.

Sapardi tidak pernah menyangka, puisi-puisinya akan digemari banyak orang. Ditanya darimana ia biasanya mendapat ilham untuk menulis puisi-puisinya, ia menjawab, “Dari apa yang saya lihat dan ia rasakan dalam kehidupan sehari-hari.”

“Ketika membaca sebuah puisi, orang tidak perlu mengernyitkan alis untuk memahaminya, tapi hayatilah dengan hati. Orang bebas saja memaknai puisi saya. Ketika sebuah puisi dibuat dan dipublikasikan, maka puisi itu milik pembaca,” ujar Sapardi.

Sapardi juga mengungkapkan, bahwa awalnya ia adalah seorang penulis cerita sebelum akhirnya lebih dikenal sebagai penulis puisi. Bagi Sapardi, menulis membuatnya bahagia.

 

sdd1.jpg

 

sdd2.jpg

 

Trilogi Soekram adalah novel yang baru ditulis Sapardi Djoko Damono. Sekarang, Sapardi sedang menyelesaikan novel lainnya, yang katanya judulnya sama dengan puisi yang pernah dibuatnya “Hujan Bulan Juni”.

“Saya berjanji novel ini sudah bisa dinikmati pembaca tepat bulan Juni nanti. Berkisah tentang kehidupan kampus. Siap-siap tisu yang banyak kalau membacanya,” ujar Sapardi berkelakar yang disambut tepuk tangan dari hadirin.

Acara di selingi dengan pembacaan puisi oleh beberapa peserta yang hadir ( duh, rasanya sudah puluhan tahun saya tidak menikmati pembacaan puisi ... ) dan ditutup dengan kejutan kue ulang tahun dan tiup lilin, karena Pak Sapardi merayakan hari ulang tahunnya yang ke-75 pada tanggal 20 Maret kemarin. Setelah itu, acara book signing dan tentu saja sambil foto bareng Pak Sapardi.

Senangnya bisa bertemu beliau, dan belajar tentang puisi dengan sederhana. Semoga beliau selalu sehat agar terus bisa melahirkan karya-karya yang indah dan inspiratif. Gak sabar nunggu novel “Hujan Buli Juni” nya. []

 

 

No stamp received.

No comment was found.
Please login to comment this article.